Life

a love letter from Bapak

December 22, 2018

Di hari Ibu nasional ini, aku akan menceritakan tentang Bapakku, ya biar saja.

Beberapa hari yang lalu, aku beberes kamar dan menemukan sebuah contoh  script pidato lomba pildacil untuk adik sepupu kecil ku, naila, yang Bapak tulis beberapa hari sebelum 'Bapak ngga ada'. Yang aku ngga pikirin waktu itu adalah dari sekian banyak tema, Bapak lebih memilih tema Berbakti Kepada Orang Tua.

Aku menangis saat aku akhirnya berani membaca script pidato itu. Sejujurnya aku takut, aku takut membacanya, aku takut akan menambah lukaku karena aku berpikir, setelah membacanya, aku akan makin terbebani dengan rasa sesalku. Dan benar, aku terluka membaca script pidato itu, aku makin merasa bersalah, aku makin merasa aku ini anak yang banyak membawa ujian untuk orang tuaku. Tapi, setelah membacanya, aku juga makin mengerti, mengerti bagaimana cara untuk memperbaikinya meski mungkin ini sangat terlambat.

—"

Hari ini aku menyadari, hari-hari dimasa akhir hidup Bapak, pasti hari-harinya mejadi berat karena perilakuku, pikirannya menjadi makin sibuk karena sikapku, terutama dalam rentang waktu 'setelah aku wisuda' hingga hari dimana 'Bapak ngga ada', hari-hari dimana aku sangat mengkhawatirkan masa depanku, hari-hari dimana aku menjadi sangat over-sensitive terhadap pilihan hidupku, hari-hari dimana aku terlalu memikirkan hal yang sebenarnya ngga perlu aku pikirin, ya, tentang ambisiku yang menggebu-nggebu. 

Setelah 'Bapak ngga ada', aku sangat menyesali perbuatanku, hingga rasanya aku malas makan, malas berkomunikasi, banyak melamun dan tidur. Pikiranku hampir kosong. Setiap saat, aku menyesali keangkuhanku. Setiap bangun tidur, aku menyesali sikapku. Setiap mengingat Bapak, aku menyesali pola pikirku.

Jujur, penyesalan-penyesalanku menorehkan luka dalam dihatiku, mencederai setiap langkahku, dan menghipnotis pikiranku. Meski Ibuku berkali-kali memberitahuku, "Bapak memang agak keras apalagi sama hal-hal yg prinsip, tapi Bapak ngga pernah marah sama kamu, Bapak sangat memahami. Kan sebelum tidur Ibu sm Bapak suka ngobrolin kalian berdua (aku dan adik)". Tapi tetap saja hal itu ngga bisa membuatku merasa lebih baik karena aku ngga mendengarnya langsung dari mulut Bapakku.

Aku mencoba mengingat harapan Bapakku terhadapku, aku menyusunnya, aku menulisnya, aku jadikan pedoman, aku ingin sekali mewujudkannya, meski terlambat, meski Bapak sudah ngga ada, meski berkebalikan dengan ambisiku, meski aku belum tau bagaimana caranya.

Ada cerita dari kejadian yang aku ingat betul kronologinya, cerita tentang salah satu  harapan Bapakku untukku, saat aku ikut tes Astra International, pagi-pagi ketika aku masih dalam perjalanan, Bapak me-whatsapp-ku, Bapak bilang yang intinya pengen kalo takdir Alloh buat aku ya sekolah lagi dan jadi dosen, tinggal di Purwokerto. Bapak kurang suka kalo aku kerja dan menetap di Jakarta meski ngga tau takdirku nanti gimana. Sekarang, hal itu aku jadikan pedoman, aku yakini betul-betul. Aku pengen banget ngewujudin itu, aku pengen suatu saat Bapak dapat ijin dari Alloh buat melihatku dari sana, Bapak lihat aku sedang mengajar dan jadi dosen yang baik dan sukses. Aamiin.